Showing posts with label Refleksi. Show all posts
Showing posts with label Refleksi. Show all posts

Wednesday, December 10, 2008

"Nonton" penggusuran di Kali Buaran

Penggusuran di Duren Sawit
Lihat juga: Foto-foto penggusuran di Kali Buaran.

Sumpah! Baru pertama kali ini aku menyaksikan peristiwa penggusuran. Biasanya aku hanya melihat di televisi, atau membaca di surat kabar. Saking seringnya berita di media massa tentang penggusuran di negeri ini, terlebih di Jakarta, sampai-sampai peristiwa semacam itu tak menimbulkan efek hati yang begitu dalam: mati rasa! Aneh!

Tetapi aku yakin, bagi warga yang mengalaminya peristiwa itu jelas menorehkan kesan pedih tak terlupakan. Meskipun secara hukum mereka tidak mempunyai hak untuk menempati lokasi tergusur, tetapi peristiwa penggusuran tetaplah merupakan problematika yang pantas diperhatikan, terutama dari sisi sosial dan kemanusiaan.

Itulah yang sempat aku saksikan tadi pagi. Ratusan rumah warga di tepi bagian barat Kali Buaran, Durensawit, Jakarta Timur dirobohkan satu per satu dengan backhoe oleh ratusan petugas Satpol PP, Rabu (10/12/2008). Meski sudah berkali-kali warga berdemo untuk menolak penggusuran itu, namun mereka harus pasrah menyaksikan rumahnya dirobohkan. "Gusuran ini untuk normalisasi Kali Buaran dan mencegah pendangkalan," kata Kasudin Trantib Jakarta Timur Tiangsa Surbakti di lokasi, seperti dikutip DetikNews, Rabu (10/12/2008).

Sejauh yang aku saksikan tadi pagi, memang tidak ada perlawanan berarti dari warga. Menurut beberapa warga sekitar lokasi, sebenarnya surat peringatan untuk segera meninggalkan daerah tepi Kali Buaran itu sudah disampaikan kepada para kepala keluarga di tempat itu. Ratusan petugas Satpol PP dapat menjalankan tugasnya dengan leluasa. Warga hanya menyaksikan rumah mereka satu per satu dilibas dengan alat berat. Beberapa tak sempat mengamankan barang-barang kepunyaan mereka. Namun beberapa bahu membahu bisa segera memindahkan harta kekayaan mereka ke seberang kali.

Penggusuran, rasanya pantas menjadi moment of awareness - saat pembelajaran dan penyadaran bagi siapa pun tentang hak warga negara dan hak negara. Tentu menjadi pertanyaan, mengapa di lokasi itu bisa dengan leluasa didirikan bangunan rumah tinggal dan berlangsung bertahun-tahun? Ada pembiaran atas sebuah kekeliruan! Dampaknya, torehan kepedihan di hati yang sebenarnya tak perlu terjadi. [skd]

Wednesday, October 29, 2008

Asyik dengan lalat!


Flies - Morning Talk, originally uploaded by BornJavanese.

Entah mengapa, sejak aku gandrung lagi pada fotografi setelah beberapa waktu kamera Nikon F10-ku hilang dicuri malind di Gua Kerep Ambarawa, binatang ini selalu menarik perhatianku: lalat hijau (laler-ijo). Sampai-sampai aku mencari tahu nama Latin dari serangga yang terkenal menjijikkan ini. Ternyata banyak variannya. Yang aku yakin sering aku jepret adalah jenis Chrysomya megalocephala, sebuah nama yang cantik di balik reputasinya yang jelek! Coba bukan berarti laler ijo, pasti menjadi pertimbangan untuk nama calon anakku yang sekarang genap tujuh bulan dalam kandungan!

Begitu perhatian sama si laler, aku pernah menulis beberapa insight - makna rohani - tentangnya di blog-ku yang lain. Di blog yang khusus aku buat untuk kreativitasku ber-fotografi juga sering aku upload gambar serangga ini sebagai wallpaper. Dan kini aku merasa perlu untuk mencerna memperhatikan, apakah ada pesan tersendiri di balik semua itu.

Kira-kira sebulan lalu boss-ku di kantor bercerita tentang pengalaman unik berkaitan dengan lalat. Semenjak bapaknya meninggal, demikian beliau bertutur, setiap kali beliau "jagongan" minum teh atau kopi, tidak hanya di rumah namun di hotel berbintang sekalipun, selalu ada seekor lalat gedhe yang berseliweran di depannya. Kadang binatang itu hinggap di meja atau di gelasnya. "Entah mengapa bisa begitu," ujar beliau bertanya-tanya.

Aku hanya berkomentar sedikit, "Lalat itu sukanya di tempat kotor dan berbau busuk, Pak! Hahaha.... Jadi..." Hehehe... aku ra wani melanjutkan! Agak bercanda tetapi mungkin sedikit menohok! Beliau pun mengerti akan hal itu, jelas.

"Tetapi aku pernah membuat tulisan makna rohani tentang lalat ijo, lho Pak! Dia itu kalau menyendiri, apalagi hinggap di tempat istimewa seperti bunga misalnya, kelihatan cantik. Barangkali saat itu dia sedang retret! Hahaha... Maksud saya, binatang itu tampak indah pada waktunya. Ah, mungkin Bapak harus mencerna pesan rohani yang ada di balik pengalaman bersama lalat itu, deh!"

Beliau tidak melanjutkan... kelihatannya hanya berhenti di situ saja, entahlah.

Sekarang malah ganti aku yang terusik, mengapa aku suka mengambil foto lalat. Mungkinkah aku sekarang ini sedang asyik dengan hal-hal yang sebetulnya kotor dan berbau busuk, hal-hal yang potensial membuat sakit? Mungkinkah aku sekarang ini sedang bergelut dengan perkara-perkara yang semestinya segera aku sudahi? Okelah... rasanya ini pesan penting bagiku dari alam.

Sementara itu, lalat memang selalu ada di mana-mana.... Dan jangan lupa, di jaman Nabi Musa dulu binatang ini pernah dipergunakan Allah untuk memperingatkan raja Firaun yang keras kepala! [skd]

Thursday, September 04, 2008

Jadi umat lingkungan

Semalam aku ikut pendalaman Kitab Suci di Lingkungan Darmojuwono, paroki St. Leo Agung Kalimalang. Itu pun karena ada undangan dari sekretaris lingkungan. Semula aku terheran, soalnya tak satupun umat Katolik yang kukenal di tempat aku ngontrak. Rupanya ibu pemilik rumah yang ditempati semalam memperoleh informasi tentang keberadaanku dari tetanggaku yang kebetulan mburuh setrika di keluarganya.

Syukurlah. Sekitar dua tahun lalu sebetulnya aku sudah "melaporkan diri" ke Romo paroki, Rm. Meus, CSsR, sekalian menanyakan aku ini masuk lingkungan mana. Namun karena tidak ada informasi berikutnya - dan saya juga masih gamang untuk dikenal umat lingkungan - usahaku terhenti di situ. Tapi, malam tadi menjadi obatnya. Aku kira Tuhan memberi jalan supaya keinginanku bergaul dengan umat itu dilanjutkan. Aku tak mungkin menolak.

Beda dengan ketika aku di tempat kakaku di Cimanggis yang umatnya sudah mengenalku semenjak masih jadi imam dulu dan aku sering terlibat dalam kegiatan di lingkungan, semalam aku merasakan sesuatu yang lain dan baru. Jelas, mereka belum mengetahui siapa saya ini dulunya, dan ini merupakan pertolongan buatku - sekurangnya untuk sementara. Tak ada rasa curiga dari mereka, so... pendalaman Kitab Suci semalem berjalan seperti biasa, hanya ditambah kedatangan sosok-sosok warga baru yang memperkenalkan diri: aku, Herman Malli, Paul, dan Tanto. Untungnya, teman-temanku itu tidak "keprucut" menyebutku "Romo" seperti yang biasa mereka lakukan setiap hari.

Aneh rasanya... "... as if I'were truly nothing!" Selama bapak pemandu menjalankan tugasnya, kepalaku penuh dengan ingatan layaknya seorang pastor yang sedang mendampingi umatnya. Namun mata hatiku mengajak pada sebuah pemandangan tentang bagaimana Roh Allah senyatanya berkarya dalam kebersahajaan. Apa pun yang sang bapak itu sampaikan seolah-olah merupakan hembusan angin yang menari-nari di depan mataku. Aku bisa menilai seberapa memahami beliau akan Kitab Suci, sejarah dan ajaran Gereja. Tetapi, stoooop....! Dia itu sedang menjalankan tugasnya, melayani karya Roh Allah. Aku tergoda untuk menyampaikan "pemahamanku" yang bisa bla...bla...bla... Tapi, stoooop...! Barangkali belum saatnya...

Tema Bulan Kitab Suci KAJ 2008 ini membahas kemurahan hati Allah. Pertemuan pertama mengambil inspirasi dari Matius 25:31-46 tentang penghakiman terakhir. Memang aku sempat menyampaikan sedikit sharing tentang bagaimana perikop itu berbicara padaku dalam hidup keseharian, bahkan memberi inspirasi bagaimana dasar iman kristianiku terletak, bahkan menjadi salah satu hal yang kini aku perjuangkan di cara hidup yang sekarang aku jalani ini. Namun... itu jauh berbeda dibanding saat menjalankan fungsi imami. Bedanya, sekarang ini aku berbicara sebagai seorang umat "biasa" yang sedang lebur dalam tarian angin sepoi-sepoi seperti sang bapak pemandu. Sementara yang "dulu", seolah-olah aku bisa membuat badai!

Aaaaah... tapi itu dulu.... Sekarang, aku ini seorang umat lingkungan, yang menari-nari karena angin sepoi-sepoi... [skd]

Monday, June 09, 2008

Was-was...

Ketika menyadari bahwa matapencaharianku selama ini berada dalam situasi genting-ting, aku hanya bisa terdiam. Ada perasaan was-was, itu jelas. Betapa tidak, karena pendapatanku masih bergantung pada tempat di mana aku bekerja saat ini, sementara belum ada titik terang untuk alternatif yang lain. Belum lagi ditambah dengan persoalan publik yang masih menggelayut: harga BBM naik diikuti oleh kenaikan harga-harga lainnya. "Memang berat hidup ini!" begitu seorang teman bilang.

Hampir setiap malam sebelum tidur, aku selalu termenung di depan rumah sambil memandangi langit. Sesekali memandangi tanam-tanaman dalam pot peliharaanku. Dalam hati aku membuka lebar-lebar terhadap "inspirasi" akan kemungkinan-kemungkinan baru yang bisa aku tempuh. Barangkali malam ini alam berbisik padaku. Tak jarang aku hanya bisa mendapatkan hirupan udara malam yang kadang terasa segar, namun kadang terasa gerah dibarengi dengingan nyamuk-nyamuk yang membikin pikiran semakin jadi kalut. Masuk ke dalam dunia gelap penuh self-blaming dan keluhan adalah godaan paling menggiurkan. Jika sudah ada iming-iming untuk memasuki dunia seperti itu, biasanya aku terus menyetopnya dan terus masuk ke dalam rumah meski dengan pikiran masih menggantung karena ubun-ubun ini masih terasa panas. Hanya doa penyerahan standard yang kemudian terucap dalam hati sebelum kemudian aku tertidur...

Perasaan was-was akan kehidupanku sebetulnya adalah tantangan iman. Itu yang aku tahu dan yakini, karena beriman mestilah tidak menyertakan perasaan takut, khawatir atau was-was. Memang bisa jadi aneh, karena menanggalkan perasaan itu akan seperti diri ini seolah berhenti - mati rasa. Padahal beriman tentu bukan kondisi mati rasa! Okelah, bagaimana bila perasaan was-was itu dirumuskan secara lain: kurangnya "ambisi" atau "gairah" untuk mewujudkan sebuah impian akan hidup yang lebih baik, kurangnya "optimisme" yang memacu langkah-langkah yang perlu diambil untuk sebuah achievement.

Mmmm... mungkinkah aku ini orang yang kurang berambisi, kurang bergairah untuk meraih sesuatu? Let me do something instead of writing words on here! [skd]

Tuesday, May 27, 2008

Sok sibuk! Ngleblog melulu!

Lebih dari sebulan aku tidak posting di blog ini! Pfff... terlalu nguprek di blog-blog yang lainnya sih!

Blog Jawaku paling rame dikunjungi orang. Soalnya di sana ada MP3 wayang kulit yang bisa didonwload. Aku bikin MP3 itu sewaktu masih aktif jadi pastur. Hiburan paling nyamleng di malam hari menjelang tidur, bahkan di siang hari pun, ya ituuu...wayang-wayangnya Ki Hadi Sugito almarhum. Kalau nggak ya campursarinya Mas Manthous. Tentu saja aku juga demen musik klasik, Taize dan musik-musik rohani. Tapi wayang dan gendhing-gendhing Jawa adalah favoritku. Sampai-sampai karena kegemaranku yang umumnya disukai oleh priyayi-priyayi sepuh dulu aku diparabi "Eyang" atau "Simbah"! Blog Born Javanese itu memang aku bikin karena kecintaanku pada budaya Jawa. Lumayan, bisa menjadi sarana untuk berbagi dan berelasi dengan umat Dalem, meski jelas tidak seperti dulu lagi.

Natural Wisdom adalah blog-ku yang lain. Aku berusaha untuk menulis dalam bahasa Inggris di blog tentang "kebijaksanaan alam" ini. Inilah blog pertama yang aku buat. Pendidikan rohani di Tahun Rohani Jangli Semarang telah menabur benih yang patut aku pelihara dan lestarikan. Benih itu berupa kebiasaan untuk menarik makna rohani dari hal-hal sehari-hari. Allah yang bersabda dan berkarya sungguh nyata! Alam pun menyampaikan pesan itu, dalam keheningan.

Sebetulnya ada lagi blog lain yang semula aku maksudkan untuk menyampaikan getar iman dalam situasi hidup yang serba sulit ini. Judulnya pun begitu pe-de dan bombastis: Kandar for The Good News! Sampai-sampai aku malah merasa minder dengan judul itu. Yaaaah... semula sih dengan semangat berkobar-kobar penuh kepercayaan diri aku ingin menyampaikan pesan-pesan gembira dari peristiwa hidup sehari-hari. Menyikapi hidup dengan sederhana, positif thinking, dan mindset senyum ceria adalah sebuah cara yang ingin aku bagikan. Pada kenyataannya, situasi hidup dalam kebersamaan di tengah masyarakat sudah terlalu banyak diderasi oleh berita-berita yang mengkhawatirkan! Memang tidak mudah untuk menggeliatkan jiwa optimistis dan kegembiraan di tengah belantara hidup seperti itu. Untuk tetap hidup dalam iman - yang mestinya ditandakan dengan optimisme dan kegembiraan - memanglah sebuah perjuangan yang tiada henti.

Sudah sebulan ini aku juga mengelola blog baru lagi yang lebih gaul. Namanya Sukasih. Kisah-kisah seputar keluargaku semenjak aku mempunyai istri aku tuangkan di family blog ini. Meski hidup berkeluarga tidak serba mulus, namun yang aku sampaikan di blog ini selalu dalam nada cair, ngelucu dan ngehumor.

Hobby fotografi dan desain grafis juga telah menggodaku untuk membuat blog baru lagi. Jadilah Wallpaper 4U. Meskipun sudah terlalu banyak situs-situs yang menawarkan wallpaper yang bisa didownload secara gratis, aku tetep nekad. Ada gumpalan bahan di dalam hati ini untuk diurai dan dikemas secara indah dalam sapuan kursor mouse di layar monitor. Kekayaan budaya manusia Indonesia, pesan-pesan iman dan motivational musti bisa dikemas secara indah. Aku punya imagery yang kini sedang mengalir membentuk images. Wallpaper adalah media untuk itu.

Blablabla... Kalau mau dihitung masih banyak lagi yang seolah-olah menunjukkan aku ini seorang sibuk-man hingga jarang duduk berdoa di sini. Sudah berapa Hari Raya terlewat begitu saja tanpa ada endapan di tempat ini! Bulan Mei adalah bulan pujabakti kepada Bunda Maria... juga tak ada gemaku di sini tentang Sang Ibu. Bahkan sebuah berita gembira pun tak sempat tertoreh di sini sebelum ini: Sabtu, 17 Mei 2008, mantan rektorku di Jangli dulu, Rm. JM. Pujasumarta, Pr telah diangkat oleh Takhta Suci menjadi Uskup Bandung, 17 Mei 2008. Belum ada ucapan selamat aku sampaikan kepada beliau, baik melalui situsnya maupun melalui SMS atau telepon! Ter...la...lu!

Stop! Hatiku malah jadi lebih ngelantur... Aku mau meluncur ke situsnya Sang Uskup baru di Multiply sana sehabis tulisan ini sukses terposting! [skd]

Wednesday, January 16, 2008

"Anjing di bawah meja tuannya"

MyWeddingMinggu Kliwon, 9 Desember 2007 adalah hari bersejarah bagiku. Itulah hari saat aku mengucapkan janji perkawinan di hadapan publik secara resmi. Aku menikah dengan Leobarda Dini Purwanti secara sipil, tidak secara sakramental.

Bagi kebanyakan orang, hari perkawinan adalah hari bahagia. Ucapan "Selamat menempuh hidup baru semoga berbahagia" juga kami terima dari kerabat dan orang-orang yang menyaksikan perkawinan kami di hari itu dan hari-hari berikutnya. Ada yang secara langsung, ada pula yang melalui telepon maupun SMS. Namun, ucapan itu terasa aneh! Karena perasaanku hari itu memang tidak karuan. Bagaimana tidak, perkawinanku ini lain dari yang lain!

Untuk peristiwa perkawinan seperti diriku dan Dini ini, jumlah orang yang hadir di aula gereja Kiduloji termasuk istimewa. Ada sekitar 200-an orang. Kerabat dan keluarga dekat, teman-teman, kenalan dan bekas anak dampingan hadir menjadi saksi. Malah ada sahabatku seorang muslim rekan seperusahaan yang mengirimkan juru shooting video. Kehadiran mereka aku terima sebagai dukungan yang sangat bernilai. Dan memang, upacara perkawinanku di luar gedung ibadat itu menjadi terkesan sedikit meriah.

Namun aku tahu, di dalam lubuk hati mereka yang mengenal kami berdua tersemat kesedihan dan menyayangkan peristiwa itu. Beberapa kerabat dekatku ada yang tidak kuasa menahan tangis. Beberapa ada juga yang tidak mampu menutupi perasaan benci atas perkawinan itu. Bahkan ada juga yang mengirimkan pesan singkat mengutarakan hatinya yang "kelara-lara".

Aku sendiri ingin merasakan kebahagiaan sebuah hari perkawinan. Mulai malam midodareni dan hari-hari sebelumnya aku berusaha untuk berwajah gembira supaya hatiku turut tersetting demikian. Selama upacara pemberkatan janji perkawinan dan pesta kecil di rumah istriku pun aku membiarkan diri tersenyum dan tertawa, sampai pipi terasa kram. Namun aku mengakui, ada kepedihan tertoreh di hati demi menyadari itu semua. Dan belakangan aku harus mengakui juga bahwa kehadiran orang sebanyak itu lebih memberi dukungan kepada kedua orang tuaku yang tak bisa lagi aku membayangkan perasaan mereka.

Aku kesulitan menggambarkan suasana hatiku di hari itu. Campur aduk tak terkatakan. Gembira dan pedih menjadi satu. Namun untuk sebuah awal perjalanan babak hidup baru, hari itu memberi kesan lebih mendalam: sebab, tidak boleh ada ungkapan syukur atas perkawinanku!

Minggu Kliwon sore di hari yang sama, keluargaku mengadakan misa syukur keluarga dan mengundang umat wilayah untuk hadir. Keluarga istriku juga diundang. Semula ada tiga hal yang ingin disyukuri sebagai ujub:
1. Adikku nomor tiga hamil 7 bulan setelah 5 tahun menikah.
2. Adikku nomor dua baru saja melahirkan anaknya yang kedua, perempuan.
3. Aku sendiri anak nomor satu baru saja menikah.

Tetapi menjelang perayaan Ekaristi dimulai, romo tidak memperkenankan ujub ketiga itu! Aku tidak sempat diberi tahu dan tidak sempat diajak bicara tentang pembatalan itu. Aku bersama keluarga istriku tiba terlambat, persis saat misa akan dimulai. Sepanjang misa itu tidak ada doa atau homili sepatah katapun yang menyebut perkawinanku di pagi hari yang sama. Bahkan, homili romo yang disertai lelucon dan gelak tawa umat terasa seperti pedang tajam yang menusuk hatiku. Tengkukku sampai kaku dan nafasku sesak. Selama misa itu perasaanku sama sekali tidak nyaman. Aku seperti orang asing di rumahku sendiri!

Dan benar, ada sesuatu yang tidak beres terjadi. Sehabis Doa Syukur Agung aku diminta untuk keluar dan diajak ke dapur. Di sana sudah menunggu Bapak, Pakdhe dan beberapa orang dekat lain. Oleh mereka aku diminta untuk mencegah keluarga istriku yang ingin pulang selagi misa belum selesai! Ya Tuhan! ternyata pembatalan ujub ketiga dan homili tadi itu juga dirasa sangat menyakitkan hati rombongan, yang nota bene tidak semuanya Katolik! Ada feeling of being humiliated.

Syukurlah, aku berhasil membujuk mereka untuk tetap tinggal sampai seluruh acara selesai, termasuk acara sambutan atas kehadiran rombongan yang semula sekalian ingin menyerahkan istriku ke tengah keluarga besarku.

Begitulah, suasana syukuran keluargaku menjadi tidak mengenakkan. Aku bertanya, "Apa yang salah dari semuanya ini?!" sementara orang lain bertanya, "Siapa yang salah?!" Dan kambing hitam pun harus ada! Siapa lagi kalau bukan pihak yang membatalkan ujub ketiga itu!

Demi buntut peristiwa yang seperti itu, aku menangis, benar-benar menangis! Jika dicari siapa yang salah, ya aku-lah biangnya! Siapa lagi?! Dan lagi, salah satu pertimbangan hingga aku memutuskan untuk mundur dari imamat adalah supaya kolegialitas imam-imam tidak turut tercemar oleh dampak "kenakalanku". Namun kini yang terjadi justru apa yang ingin aku hindari: salah satu sahabatku menjadi kambing hitam dan memperoleh umpatan yang sangat kasar.

Sekali lagi aku menangis karenanya. Seandainya ujub ketiga itu diganti menjadi ujub doa untuk yang berdosa ini - bukan ujub syukur - sebetulnya itu saja sudah memberi kesejukan. Orang berdosa ini berharap untuk masih bisa diterima di ruang ibadat, meskipun harus duduk di sudut pojok belakang.

Memang selayaknya aku menerima hukuman, dan aku telah menerimanya dengan cara seperti itu. Dengan perkawinanku aku mengambil resiko untuk menanggung konsekuensi gerejawi. Kini aku dan istriku tidak diperkenankan menyambut komuni dan sakramen-sakramen lainnya. Kami berdua sekarang ini masuk ke dalam ruang ibadat dengan kerinduan menyambut Tubuh dan Darah Kristus. Harapan dan kerinduan itulah yang kami rasa kini menjadi penggerak untuk hadir di sudut rumah Allah seraya memandang meja. Seperti apakah sekarang kami ini?

Pada suatu ketika, seorang ibu yang anak perempuannya kerasukan setan datang mendekat dan menyembah Yesus sambil berkata, "Tuhan, tolonglah aku." Tetapi Yesus menjawab, "Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing." Kata perempuan itu, "Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya." Maka Yesus menjawab dan berkata kepadanya, "Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki." Dan seketika itu juga anaknya sembuh. - Mat 15:12-28; Mrk 7:24-30.

Permohonan, kata-kata, dan iman perempuan itu memberi inspirasi kepada kami berdua untuk menghayati iman dalam pengharapan dan kerinduan akan pertolongan kasih Allah, meski saat ini kami hanya boleh menerima remah-remah dari meja perjamuan.

"Ya Tuhan, saya tidak pantas Tuhan datang kepada saya. Tetapi bersabdalah saja, maka saya akan sembuh." ***

Tuesday, January 08, 2008

Preparing my new era of life

August 15th, 2007 was the day of the 2nd anniversary of my resignation as a Catholic priest. I have been living a way of laity people for two years, going on three. De iure I am still a priest as I just got "suspended" by the Catholic Law. I don't reach 40 years old yet. The Process of laitification will be begun properly at 40. So far no restriction put on me to receive communion and other Holy Sacraments. I thank God for this.

However, the day will come. Recently I am preparing my marriage. I will marry a woman I love on December 9th, 2007. It's so close. Oh, My! My clerical status obviously restricts me to have a wife as I vowed celibacy since my ordination of diacon on January 25th, 2000. So it will be a law-breaking. However I have made a decision after a long journey and deep considerations under many guidances of my spiritual fathers. O, Lord... have mercy on us!

I have submitted all the requirements to gain the civil rights after the marriage. What is bothering me for now is that I will put on a new "status", a new stage of my life. I will be a husband, and if God trusts me, I will be a father of my children. I shall provide the living of my family and have responsibilities on everything in it. And for all of them I just go with my love, a love that I believe it's just from God himself. It's the same love by which I was brave enough to be ordained as a priest on July 12th, 2000 ago. Actually I feel the differences, and a question occures in my mind: "Still having an obsession of the universal love, I should be attached with my wife and children. How should I love?"

For about 17 years of formation, I had been set up to live in celibacy. I realize that it isn't just like reversing a palm of hand to switch my railway track of my life. Instead of hidding the God's love, I just struggle to keep staying in his hand and loving him in this new stage of my life, in the limitations of my being. I just believe in his love, and without him I'm just nothing!

When I was ordained as a priest I quoted John 15,5c as my personal motto: "without me you can do nothing". It still applies on me to begin this new era. Oh my Lord Jesus Christ, have mercy on us sinners, and strenghten our faith, hope and love. ***
November 2007

Wednesday, November 21, 2007

Jangli? Makna Rohani!

Waktu itu petang hari, Sabtu, 02 Maret 2005, saat matahari sudah tenggelam. Lampu-lampu jalan sudah menyala menerangi dua orang muda yang sedang berjalan beriringan sambil memperbincangkan kerasnya kehidupan di Jakarta. Percakapan mereka begitu hangat, kadang-kadang diselingi tawa, kadang serius dengan topik mendalam. Sebetulnya mereka bisa mengendarai motor berboncengan, tetapi hal itu sengaja tidak dilakukan.

“Kita berjalan kaki saja. Aku pengen mengenal sudut-sudut daerah ini,” kata salah satu dari mereka. Dia memang pendatang baru, sementara yang satunya sudah lebih dahulu berada di Jakarta. “Lagipula kita bisa omong-omong. Emaus.... Emaus.... Iya toh?” lanjutnya.

“Hehe... jadi ingat masa-masa di Jangli dulu ya?” tanggapan yang satunya bernada menyetujui.

“Aku ingin mengawali hidupku di Jakarta ini benar-benar dalam rangka peziarahan, siji sing diarah. Bagaimanapun juga sekarang ini status kita masih imam Keuskupan Agung Semarang....”

Selain teman-teman sekantor, tidak ada yang tahu kalau ternyata kedua orang muda di jalan sore itu adalah imam! Karena penyelenggaraan ilahi – begitu mereka memaknainya – mereka menjalani masa extra domus, menanggalkan fungsi-fungsi imamat untuk sementara waktu.

“Apa pun ujung peziarahan kita di Jakarta ini nantinya, asal kita tidak terlepas dari iman kepada Yesus Kristus junjungan kita, pastilah Dia akan berkenan, dan pastilah itu baik adanya. Pasang mata-telinga-hati-dan pikiran! Semuanya mempunyai makna asal kita memakai kacamata yang benar.”

“Untung kita diperkenalkan dengan yang namanya makna rohani ketika di Jangli dulu ya...”

“Persis! Itulah kacamatanya!”

Tidak terasa dua orang muda yang ternyata imam itu sampai di sebuah toko voucher pulsa handphone, tujuan mereka sore itu. Tidak lama kemudian mereka keluar dari toko itu untuk kembali pulang ke mes. Namun salah satu dari mereka tiba-tiba membungkuk. Matanya tertuju ke sebuah benda di tanah. Warnanya kuning kecoklatan berbalut tanah berpasir. Diambilnya benda itu dan diusapnya. Sebuah salib kecil! Mereka berdua terpana terdiam sejenak.

“Rumaten salib iki!” tanpa komando apa pun tiba-tiba mereka berdua saling berteriak tertahan secara berbarengan. Ada nada haru, sekaligus terasa kobaran api menyala tak terumuskan saat itu.

“Kok ya kamu melihatnya?”
“Lha mbuh...”
“Kebetulan?”
“Dalam keyakinanku, tidak ada kebetulan dalam kacamata makna rohani.”
“Allah berbicara kepada kita, Dab (Mas)!”
“Tuhan beserta kita...”
“Sekarang dan selama-lamanya...”
“Amin!”

Bergantian mereka menciumi salib kecil itu, dan mereka pulang ke mes dengan suasana hati berkobar-kobar dalam keteduhan salib kecil berbalut debu itu. Sepanjang perjalanan pulang, mereka tidak habis-habisnya memperbincangkan soal salib kecil yang mereka temukan itu. Mereka tidak berebut untuk memiliki logam kuningan itu. Tanda itu sudah cukup untuk membahasakan salib dalam hati mereka masing-masing. Mereka menganalogikan jalan-jalan sore itu sebagai perjalanan dua murid dari Emaus. Dan sejak saat itu ‘Rumaten salib iki!’ menjadi refrain mereka berdua di tengah pergulatan hidup di pengasingan di belantara kota Jakarta. Dalam sinar salib kecil yang mereka temukan Sabtu sore itu, Jakarta betul-betul menjadi medan peziarahan rohani, peziarahan rohani dua orang imam muda extra domus yang ingin mempertanggungjawabkan hidup mereka dalam iman yang sungguh-sungguh.

***

Makna rohani! Itulah Roh Jangli yang tak akan pernah bisa dilupakan oleh pria-pria muda besutan Wisma Sanjaya. Itulah dua kata yang sangat operasional mulai bangun pagi sampai malam saat pergi tidur, dan akan terasa sayang bila diabaikan. Sekurang-kurangnya si frater akan kerepotan pada Jumat sore bila serentang minggu yang telah lalu dia belum dapat merumuskan insight rohani apa-apa untuk disharingkan sebagai makna rohani pada saat rapat komunitas. Muka merah dan hati berdebar. Ada secuil rasa malu pada teman-teman sekomunitas dan romo rektor. Dan tentu saja malu pada diri sendiri.

Bagaimana tidak, biarpun hanya sepenggal kata untuk merumuskannya, didalamnya dipertaruhkan otentisitas dan simplisitas sebagai pribadi terpanggil di hadapan Allah. Otentik, karena murni dari pengalaman individual yang jujur dan tulus, bukan jiplakan dari pengalaman teman. Simple, karena iman tumbuh berkembang dari kesederhanaan hati; hanya dalam kesederhanaan itulah kerja offisi rutin membosankan, aktivitas harian dan alam semesta bisa menampakkan kuntum-kuntum atau puncta spiritualis yang sangat berarti. Kebijaksanaan dan kecerdasan iman memperoleh nutrisinya. Sabda Allah dalam Kitab Suci dapat sungguh hidup. Karena muncul dari kesederhanaan, kadang-kadang makna rohani ditemukan dalam pengalaman konyol dan lucu, tak terduga dan tak bisa direkayasa. Untuk merumuskannya pun kadang diperlukan keberanian dan ke-nekad-an. Sepintas terkesan, demi sebuah makna rohani seorang frater mengadakan petualangan rohani dalam seminggu. Namun lebih dari itu, sebetulnya ada sikap hati yang mendamba sapaan Allah di luar media rohani formal seperti puncta, doa rosario, brevier, ibadat, adorasi dan Ekaristi. Avontur rohani itupun menjadi peziarahan iman untuk melihat, mendengarkan dan mengikuti Allah yang bersabda dan berkarya setiap saat, Allah yang menyelenggarakan kasih-Nya tanpa batas. Bagi para frater yang dilanda kehampaan makna rohani, ayat-ayat Kitab Suci telah siap membantu menggarisbawahi pengalamannya... tentu bila dibaca dengan sungguh. “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu” (Mat 7:7).

Memanglah dibutuhkan kecerdasan iman untuk merumuskan makna rohani. Secara serentak proses perumusan itu sendiri mengasah kecerdasan iman para frater. Allah yang mengasihi adalah Misteri. Salah satu bahasa yang pada hemat saya cukup mewakili untuk menangkapnya adalah bahasa analogi antara dua dimensi: dimensi insani dan dimensi ilahi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, yang wadhag dan yang rohani. Dimensi yang satu menggetarkan yang lain; orang musik bilang: terjadi resonansi. Orang yang mampu menangkap getar resonansi itu mempunyai kepekaan hati. Afeksi seseorang berkembang karena kepekaannya terhadap tanda-tanda semesta (zaman) di sekelilingnya. Di Jangli, pendampingan hidup beriman sebagai manusia panggilan untuk imamat tidak mengabaikan aspek ini.

Bagi saya pencarian makna rohani adalah sebuah tradisi yang ditanamkan kuat di Tahun Rohani Jangli, bahkan menjadi cara kerja bagaimana saya menghayati iman. Sebagai sebuah tradisi, habitus merumuskan makna rohani tidak berhenti pada rapat komunitas terakhir di Jangli saja. Habitus itu berlanjut di Seminari Tinggi, semasa menghayati hidup imamat, dan sampai sekarang ini ketika saya sudah meletakkan jabatan imamat itu. Makna rohani-makna rohani yang terhimpun menjadi untaian rahmat Allah yang membimbing dan menguatkan langkah hidup saya. Bahkan, beberapa pengalaman hidup masa lalu baru bisa saya tangkap dan rumuskan maknanya jauh sesudah peristiwa itu berlalu.

Kentut = kabar gembira!

Saya lupa persisnya kapan, ketika di Tahun Rohani saya pernah menderita keracunan. Teman-teman menduga saya keracunan ikan tongkol yang dihidangkan di refter. Perut saya sebah (tidak enak), rasanya penuh angin dan kenyang selama tiga hari. Repotnya, saya tidak bisa buang air besar. Bahkan kentut pun tidak bisa! Teman-teman pada tertawa! Hanya ingin kentut saja nggak bisa! Hari ketiga ada teman yang memberi saya susu untuk diminum. Dan pada hari itu juga saya bisa kentut, lega rasanya... teman-temanku ikut tersenyum senang, meski soal kentut itu akhirnya sempat menjadi olok-olokan untuk saya.

Tahun 1998 ketika saya tingkat V FTW, saya harus menjalani operasi usus buntu. Lagi-lagi soal kentut menjadi tema! Setiap orang yang membesuk saya selalu bertanya, “Sudah kentut belum?” Begitu pentingnya kentut bagi mereka, pikir saya. Sebab katanya, sehabis operasi bila sampai kemasukan minuman atau makanan sebelum kentut, bisa fatal akibatnya. Saya baru kentut setelah hari kedua sesudah operasi. Baunya minta ampun! Tetapi orang senang mendengarnya. Kakak saya yang menemani saya, tidak peduli dengan bau itu. Kentut saya waktu itu menyenangkan keluarga saya.

Kentut dinanti dan dirindu, padahal menjengkelkan bagi beberapa orang!

Saya sempat terusik oleh ironi ini. Namun, syukur kepada Allah! Saya jadi memahami kentut orang lain, dan lebih dari itu saya memahami salah satu peristiwa iman yang dialami Bunda Maria pada awal perutusannya. Saya berdoa semoga cara pemahaman saya tidak keliru. Saya memahami demikian: Ketika Maria menerima “kabar gembira” dari malaikat Gabriel bahwa dia akan mengandung Mesias dari Roh Kudus (bdk. Luk 1:26-38), pada saat itu – ampun ya Bunda – Maria ibarat “dikentuti” oleh Allah! Betapa tidak?! Dia belum bersuami, tetapi harus hamil mengandung bayi Yesus. Kehadiran Mesias dinanti oleh Maria dan seluruh bangsa Israel, kegembiraan seluruh dunia; tetapi hamil di luar nikah adalah kenajisan yang harus dibayar dengan rajam sampai mati. Maria harus menerima itu, dengan iman yang teramat besar dan mendalam....

Belajar dari kentut dan peristiwa Maria Annunciata yang kita rayakan setiap tanggal 25 Maret itu, saya belajar menghayati iman dan hidup dengan cara pandang yang positif. Saya meyakini, sepahit apapun peristiwa dalam hidup ini, di situ Allah juga menyampaikan kegembiraan, Dia menjalankan karya penyelamatan-Nya. Kentut bisa membuat orang bersungut-sungut, tetapi bisa juga membuat orang tersenyum geli tertawa gelak. Saya memilih yang terakhir, dan ini adalah pilihan iman! Peziarahan iman di dunia ini akan sangat melelahkan bila dipenuhi “sungut”, namun akan menggairahkan bila disertai senyum dan muka cerah-ceria.

Oleh karena tradisi makna rohani mulai dari Jangli-lah, saya bisa tersenyum bersama Allah dengan kekonyolan-kekonyolan-Nya yang mampu saya tangkap dengan cara seperti itu. Selanjutnya, “biarlah segala makhluk memuji nama-Nya yang kudus untuk seterusnya dan selamanya” (Mz 145:21).

***

Selamat merayakan Pesta Perak untuk Wisma Sanjaya. Aku bersyukur dan bergembira boleh menghirup nafas di tempatmu 15 tahun yang lalu ketika aku diajak mengenali kasih Allah secara mendalam; dan 2 tahun yang lalu ketika aku memantapkan langkahku untuk menapaki jalan baru peziarahan imanku. Semoga siapa pun yang pernah, sedang dan akan melewati hari-hari hari di tempatmu senantiasa disegarkan oleh hembusan Roh Kudus. Terima kasih kepada para romo pembimbingku, Romo Pujasumarta dan Romo Djono, Romo Hartosubono, Romo Priambono, Sr. Antonia, Sr. Francisca, rekan seangkatan, sahabat sekomunitas, dan tak lupa Mami Sikep. Terima kasih kepada umat Allah atas doa dan perhatian yang kami terima. Aku juga berdoa untuk kebahagiaan kekal Romo Kardinal Darmoyuono dan Romo Nata Susila almarhum yang telah mendahului kita menghadap Bapa.

Proficiat! Wisma Sanjaya, aku membanggakanmu! ***


Jakarta, 18 Maret 2006

Pada bulan permenungan Salib Kristus
(maaf, bulan permenungan “kentut” Allah juga!)

WidgetBucks - Trend Watch - WidgetBucks.com